“Perbedaan apakah yang telah kita wujudkan?”

 

Pertanyaan di atas berasal dari seorang ahli epidemonologi yang berjuang keras dalam upaya pencegahan penyakit menular yang telah menyedot perhatian dunia paling banyak dalam sejarah yaitu HIV-AIDS. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang berbeda dengan penyakit menular lainnya. Jika penyakit menular lainnya seperti TBC atau malairia akan membuat orang merasa iba mengetahui seseorang tertular penyakit tersebut, maka HIV-AIDS akan membuat orang mengrenyitkan dahi ketika mengatahui seseoarang tertular virus HIV tersebut, dan mungkin ini yang akan dipikirkannya dalam hati, “Orang ini pastilah nakal”.

HIV-AIDS memang selalu diidentikkan dengan penyakit yang menjijikkkan dan penyebabnya selalu berhubungan dengan dosa dalam kacamata agama manapun. Beberapa penybabnya adalah seks komersial, seks bebas, seks anal yang dilakukan anatar pria dengan pria dan penyuntikan narkoba dengan jarum bekas. Bagaimana tidak orang akan mengrenyitkan dahi bila mengetahui ada seseorang yang terkena penyakit tersebut? Karena semua penyebabnya merupakan perbuatan yang berdosa dan melanggar nilai-nilai agama maupun norma sosial.

Pada awal usahanya, Elizabeth Pisani, seorang ahli epidemiologi asal Inggris yang sempat tinggal dan bekerja di Indonesia beserta rekan-rekan seperjuangannya ini mengalami kesulitan dalam mencari dana dari negara maju untuk menyalurkan dana dari pembayar pajaknya untuk mengatasi virus yang telah memporak-porandakan kesehatan masyarakat ini. Bagaimana tidak, berbuat baik kepada para pelacur, pemakai narkoba dan kaum gay hanya akan membuat para politikus yang mempunyai kedudukan ini kehilangan dukungannya di kancah perpolitikan dan otomatis akan kehilangan banyak suara dalam pemilu berikutnya, karena mereka menganggap para pelacur dan pemakai narkoba adalah sampah masyarakat.

Tapi pernahkah mereka memikirkan bahwa penyakit menakutkan dan menjijikkan bagi masyarakat ini akan dan bahkan sudah mengancam para isteri-isteri dan anak-anak yang tidak bersalah, yang tidak termasuk dalam kotak pelacur maupun pemakai narkoba? Karena bisa saja pria yang membeli seks dari para pelacur yang sudah HIV positif membawa virus itu ke rumah pada saat ini berada dalam masa tertular, di mana virus ini siap menunggu untuk ditularkan dan menularkan pada isteri-isteri setia dan anak-anak yang dilahirkan dari rahim mereka?

Alasan di atas seharusnya cukup untuk para pendonor dana mengucurkan dananya untuk upaya pemberantasan HIV-AIDS di negara-negara miskin dan negara-negara berkembang. Misalnya di Afrika selatan.

Beberapa upaya pencegahan menyebarnya virus mematikan ini adalah dengan memberikan sosialisasi bagi apra pelaku seks komersial agar memakai kondom dalam transaksi seksualnya, pembagian jarum suntuk geratis atau murah bagi para pecandu narkoba suntik dan pembagian pelumas bagi para pria yang melakukan seks anal dnegan sesamaa pria maupun dengan waria. Ternyata upaya tersebut menimbulkan berbagai protes dari kalangan politikus dan agamawan, karena menurut mereka membagi-bagikan kondom dan jarum suntik yang masih seteril sama saja menyuruh mereka melakukan seks komersial dan penggunaan narkoba.

Hal ini memang terdengar irronis, karena pencegahan penularan HIV-AIDS adalah dengan cara membagi-bagikan kondom geratis kepada para pekerja seks komersial dan pembelinya sebagai sosialisasi seks aman dengan menggunakan kondom. Namun jika dibandingkan dengan melakukan sosialisasi larangan seks bebas dan seks komersial, cara di atas akan lebih efektif menghambat laju penyebaran HIV-AIDS. Karena melarang seseorang membeli atau menjual seks adalah hampir tidak efektif, bahkan sama sekali tidak efektif, karena seks komersial ada bukan karena pemasoknya namun karena permintaannya dari pelanggan. Begitupun dengan upaya pemberian jarum suntuk yang bersih kepada para penyuntik adalah lebih efektif dilakukan daripada melarang penggunaan narkoba dengan menyulitkan penyuntuk mendapatkan jarum yang bersih karena disamping harganya yang mahal, saat membeli pun akan ditanyai bermacam-macam oleh petugas. Hal ini yang membuat mereka berbagai ajrum suntuk dengan sesama, dan ini berarti jalan tol bagi HIV-AIDS untuk menular.

Irronis memang namun hal inilah cara yang efektif. Karena merubah sesuatu yang buruk dan sudah menjadi kebiasaaan yang mengakar kuat sangatlah sulit. Hal yang pertama bisa dilakukan adalah mendampingi mereka dengan cara yang aman dan melakukan pendekatan agar mereka nyaman

 

(HABITUS × MODAL) + RANAH = PRAKTIK DALAM ORGANISASI ISLAM DI UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

Lingkungan sosialisai individu baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, lingkungan pendidikan, juga lingkungan di tempat mereka bekerja dan juga semua lingkungan yang bersinggungan dengan individu menciptakan suatu skema- skema tindakan. Skema- skema yang terbentuk, kemudian terinternalisasi dan melalui skema- skema tersebut indivdu mempersepsi, memahami, menghargai, dan mengevaluasi realitas sosial. Skema- skema yang akhirnya memberikan kerangka bagaimana bertingkah laku bagi individu tersebut di dalam lingkungan dimana dirinya berada. Dalam hal ini mereka, mahasiswa yang berpenampilan “islami” saling bersosialisai satu sama lain, misalnya melalui suatu organisasi kemahasiswaan yang menaungi mereka, hingga akhirnya membentuk suatu gambaran, skema- skema berpikir dan bertindak yang akhirnya secara tidak sadar membentuk mereka ‘terbentuknya penyesuaian diri’. Mereka yang berpenampilan “islami” secara otomatis akan bersikap lebih menjaga pandangan, lebih bersikap lemah lembut dengan kelompok mereka, dan dengan “sesamanya” akan saling memanggil “akhi” atau”ukhti”. Hal ini adalah karena adanya suatu skema- skema yang terbentuk karena pengalaman dari terjalinnya hubungan individu tersebut dengan individu lain di dalam suatu struktur  yang ada dalam ruang sosial, atau disebut habitus. Bourdieu menjelaskan habitus sebagai suatu sistem disposisi yang berlangsung lama dan berubah- ubah (durable, transposable disposition) yang berfungsi sebagai basis generative bagi praktik- praktik yang terstruktur dan terpadu secara objektif. (Bourdieu, 1979: vii)

Dijelaskan pula bahwa habitus bekerja pada tingkat bawah sadar :

Skema- skema (schemes) habitus, bentuk- bentuk klasifikasi primer, memperoleh efektifitas khususnya berkat fakta bahwa mereka berfungsi di bawah lapisan kesadaran an bahasa, di luar jangkauan pemerikasaan introspektif yang cermat atau pengendalain kehendak.dengan mengorientasikan praktik- praktik secara praktis, skema- skema tersebut menanamkan sesuatu – yang secara keliru disebut sebagian orang sebagai nilai- nilai ke dalam gerakan tubuh (gestures) yang paling otomatis atau ke dalam keterampilan tubuh yang yang kelihatannya remeh- cara berjalan atau membuang ingus, cara makan atau berbicara, dan mengikut sertakan prinsip- prinsip konstruksi dan evaluasi dunia sosial yang paling fundamental, yakni prinsip- prinsip yang secara langsung mengungkapkan pembagian tenaga- kerja… atau pembagian kerja dalam memperoleh dominasi.

(Bourdieu, 1984: 466)

Habitus inilah yang kemudian membentuk suatu pandangan mengenai siapa yang pantas dipanggil dengan sebutan “akhi” dan “ukhti”. Seperti yang dipaparkan oleh salah satu mahasiswi yang juga menggunakan panggilan tersebut pada kelompoknya, mahasiswi ini yang memiliki nama Arifah ini memaparkan, “kalau menurutku sih karena dalam kelompok itu ada suatu ikatan dan tujuan bersama, jadi sebutan itu sebagai identitas untuk membedakan dan mempererat hubungan anggotanya”. Ungkapnya. Dari pemaparan di atas, baik dari mahasiswa yang menggunakan panggilan “akhi” dan “ukhti” dalam pergaulannya dan dari mahasiswa yang tidak menggunakan panggilan tersebut, memperjelas adanya unsur-unsur atau skema-skema yang terbentuk seperti kebudayaan atau kebiasaan, juga tentang identitas suatu kelompok di mana mereka bersosialisasi sehingga melahirkan habitus yang secara tidak sadar telah menanamkan sesuatu yang mereka anggap sebagai nilai- nilai  dalam bertindak dan bertingkah laku, hingga akhirnya membuat mereka menentukan siapa-siapa sajakah yang berhak mendapatkan panggilan “akhi” dan “ukhti”. Dalam pembahasan ini, tentu saja unsur modal sosial juga tidak bisa di abaikan.

Modal dapat mencakup hal- hal material (yang dapat memiliki nilai simbolik) dan berbagai atribut ‘yang tak tersentuh’ namun memiliki signifikansi secara kultural, missal pestice, status, dan otoritas (yang dirujuk sebagai modal simbolik), serta modal budaya (yang didefinisikan sebagai selera bernilai budaya dan pola- pola konsumsi). (Bourdieu, 1986). Berkaitan dengan modal yang dijelaskan oleh Bourdieu, jika dikaitkan dengan fenomena penggunaan panggilan “akhi” dan “ukhti” di dalam wilayah kampus, mereka yang dirasa berhak menggunakan panggilan tersebut adalah mereka yang selalu berpenampilan “islami”. Biasanya mereka mengikuti organisasi mahasiswa semacam majelis-majelis yang bernafaskan rohani. Jadi mereka yang memiliki penampilan seperti yang dijelaskan di atas, memiliki modal untuk berhak mendapatkan panggilan tersebut, dibandingkan mereka yang berpenampilan berbeda dengan kelompok yang bercelana gantung dan berjenggot ataupun yang berjilbab lebar. mereka yang mengikuti organisasi kerohanian lebih memiliki modal untuk dapat dipanggil dengan panggilan berbahasa arab tersebut dibandingkan dengan mereka yang bukan merupakan anggota.

Disadari atau tidak berada di dalam lingkungan kampus, kita telah terkotak-kotakkan oleh apa yang di sebut dengan karakteristik masing-masing mahasiswa. Seperti yang telah kita bahas di atas tentang pemanggilan khusus dengan menggunakan bahasa arab seperti akhi, ukhti, anti, antum, akhwat dan ikhwan. Pemanggilan tersebut tidak berlaku bagi seluruh mahasiswa di kampus, meskipun jika dilihat dari arti bahasa Arabnya, semua mahasiswa pun bisa dipanggil dengan panggilan demikian, namun kenyataannya pemanggilan itu hanya bagi mereka mahasiswa yang mempunyai karakteristik tertentu, seperti berjilbab besar, menggunakan kaos kaki bagi perempuan, dan bagi laki-lakinya memiliki ciri-ciri berejenggot, celana menggantung dan terdapat tanda hitam di kepalanya.

Biasanya mereka berada dalam satu wadah organisasi Islam di kampus. Organisasi yang fokus kepada kegiatan-kegiatan agama Islam di kampus dengan tujuan menyampaikan ajaran agama Islam. Dalam organisasi tersebut, pemanggilan dengan cara di atas sudah merupakan budaya dalam pergaulan seahari-hari mereka. Mereka memanggil teman perempuan dengan panggilan ukhti yang dalam bahasa Arab berarti saudara perempuanku, mereka memanggil teman laki-laki dengan panggilan akhi yang berarti saudara laki-lakiku. Kemudian mereka menyebut laki-laki yang berada dalam organisasi Islam tersebut dengan panggilan ikhwan dan perempuan yang berada di dalamnya mereka dengan akwat. Mereka memakai istilah-istilah tersebut pada saat berinteraksi dengan sesamanya sedangkan jika berinteraksi dengan orang lain di luar ranahnya, istilah-istilah tersebut tidak akan muncul. Seperti jika berada dalam kelas, misalnya seseorang tidak akan memanggil ukhti kepada teman perempuannya di kelas karena dia tidak mempunyai karakteristik untuk dipanggil demikian.

Berpikir dalam term ranah berarti berpikir tentang ruang produksi sebagai suatu sistem yang sedemikian rupa, sehingga karakteristik masing-masing produsen intelektual didefinisikan oleh posisi mereka dalam sistem ini. Sebuah ranah merupakan sebuah semesta yang di dalamnya karekateristik para produsen didefinisikan oleh posisi mereka dalam relsi-relasi produksi, oleh kedudukan yang mereka tempati dalam sebuah ruang relasi-relsi objektif tertentu. Ruang inilah yang harus dianalisis, dalam setiap kasusnya, yang pada saat bersamaan menyingkirkan studi tentang individu-individu terisolasi, seperti praktik sejarah sastra yang memproduksi rangkaian ’manusia dan karya mereka’.

(Bourdieu, edisi bahasa Prancis 1976: 420 dalam “(habitus x modal)+ ranah = praktik” 2009:98)

Dari pernyataan Bourdieu tersebut, maka organisasi Islam di kampus merupakan sebuah ruang produksi sebagai suatu sistem yang sedemikian rupa sehingga karakteristik-karakteristik orang yang berada di dalamnya didefinisikan oleh posisi mereka dalam sistem ini. Karekteristik seorang perempuan misalnya yang berjilbab besar, menggunakan kaos kaki, dan menggunakan deker di tangannya ini didefinisikan sebagi seorang yang dipanggil ukhti atau akhwat dan merupakan seroang yang mempunyai posisi dalam organisasi Islam di kampus. Begitu juga jika seorang laki-laki berpenampilan kalem, dengan jenggot dan celana menggantung maka akan didefinisikan sebagai seseorang yang berkecimpung dalam ranah organisasi Islam di kampus dan mendapat panggilan akhi  atau ikhwan.

Organisasi Islam di kampus merupakan sebuah ranah yang dibentuk oleh berbagai agen sosial yang berpartisipasi di dalamnya dan menjadi titik-titik pertemuan antar individu yang memiliki minat, ataupun budaya yang sama. Dalam hal ini individu dimungkinkan untuk mendapatkan keuntungan dalam ranah dan posisi objektifnya. Misalnya individu yang bergabung dengan organisasi ini kemudian dapat berkumpul dengan individu-individu yang lain yang mempunyai pemahaman yang sama sehingga dapt bertukar pikiran. Ranah dalam hal ini merupakan pasar kompetisi di mana berbagai jenis modal yang berkaitan seperti gaya berbusana, pemikiran dan pemahaman digunakan dan di-share kepada yang lain.

Tidak hanya itu, struktur lingkunganlah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu (secara individual atau kolektif) yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk dari aktor (baik itu individu atau kolektif) (Ritzer, 1996:525).

Karena itu, posisi obyektif dari individu di dalam sebuah orgsnisasi Islam di kampus ditentukan oleh modal-modal yang dimilikinya pada relasinya dengan individu lain, pola hubungan yang terbentuk pada pengertian ini dapat berupa tingkah laku yang terpola dan khas. Seperti pemanggilan khusus yang sudah dijelaskan di atas. Dalam ranah ini, apa yang sudah menjadi minat, tujuan dan budaya tersistem dengan rapi dan diperjuangkan.

Kebiasaan dan modal yang dimiliki individu menentukan posisi objektif dalam ranah ini. Kepemilikan modal besar akan mempengaruhi dominasi posisi objektif dalam hubungannya dengan individu lainnya yang mempunyai kepemilikan modal lebih kecil. Dalam hal ini misalnya, individu yang dianggap lebih alim dan lebih sholeh atau sholehah akan mempunyai banyak pengaruh di dalam ranah ini, atau dalam hal ini adalah organisasi Islam yang berada di kampus. Sebaliknya jika modal yang dimiliki lebih kecil atau berkurang maka posisinya pun akan semakin tidak diperhitungkan. Misalnya saja seseorang yang tadinya memakai jilbab yang besar, namun pada pekembangannya ia justru semakin lama semakin memperkecil ukuran jilbab yang dipakainya, maka otomatis panggilan ukhti itupun tidak akan diberikan lagi padanya.

Praktik sosial merupakan bagaimana masyarakat dan segala seluk beluknya melakukan suatu tindakan atau praktik komunikasi dengan lingkunganya dengan cara yang berbeda dengan tujuan tertentu dan sebuah negoisasi pribadi yang mendasari tindakan tersebut.Dalam bertutur kata dan bersikap  manusia mempunyai seluk-beluk yang berbeda baik untuk membentuk identitas diri,resistensi ,adaptasi maupun melindungi diri agar mereka berada pada posisi yang tepat untuk diri mereka.

Dalam hal ini kita akan membicarakan tentang bagaimana bahasa bisa membentuk konstruksi pemikiran tertentu dalam masyarakat yang menghasilkan identitas kelompok yang berbeda, dalam foto diatas dapat kita lihat sekelompok orang yang mengenakan baju sesuai syariah yang diajarkan oleh agama dengan jilbab yang menutupi separuh badan, memakai penutup kaki dan hanya terlihat wajah dan telapak tangan ketika dalam perkumpulan itu maka wanita itu akan saling memanggil dengan sebutan ukhti atau yang sering disebut dengan akhwat, selain itu interaksi antara laki-laki dan perempuan sangat dibatasi dan dijaga.

Hanya saja dapat sebutan itu pada praktinya menimbulkan sebuah tanda tany. Seperti suatu ketika, seseorang yang notabene tidak memakai jilbab besar berjalan dengan temannya yang memakai jibab besar. Ketika berjalan mereka bertemu dengan seorang jilbaber dan bersalaman sambil berkata”mau kemana ukh?”dan salah satu orang yang memakai jilbab besar tersebut menjawab mau ke TU dan dia balas jawab “oh ya sudah mari ukh, mba…..?. dari contoh tersebut terlihat jelas bahwa meski “ukhti” adalah panggilan untuk perempuan, namun agar seorang perempuan dipanggil seperti itu haruslah memenuhi kriteria tertentu atau mempunyai modal agar bisa dipanggil dengan sebutan “ukhti”.

Hal tersebut sudah menjadi praktik kebudayaan di kalangan para aktivis agama di kampus, seperti kata seorang informan berinisial N yang kami wawancarai 11 Juni 2011 yang lau, “ itu memang sudah menajdi kebudayaan dari dulu, dan meskipun kita belum kenal seseorag namun seseorang itu berpenampilan seperti kita, berjilbab besar, maka kami akan memanggilnya ukhti”. Ketika kita kaitkan itu dengan teori yang disampaikan Bordieu maka itu adalah sebuah praktik yang berasal dari sebuah kebiasaan dan kriteria tertentu yang harus kita miliki dengan itu kita melakukan suatu praktik yang berbeda.

 

Praktik tersebut kadang dirasa diskriminatif oleh sebagian orang karena kadang orang yang tidak dipanggil ukhti atau akhi ketika berada dalam suatu kelompok yang mempunyai panggilan seperti itu akan merasa tidak nyaman dan merasa lebih tidak baik atau belum pantas dipanggil begitu,padahal sebenarnya itu adalah sebuah bahasa. Menurut hasil wawancara kami bagi orang yang melakukan praktik itu maka dia merasa lebih nyaman,lebih merasa saling memiliki dan merasa dihormati dengan panggilan itu,maka disitulah praktik sosial bisa membentuk suatu struktur tertentu dalam masyarakat.

Dan disisi lain para orang diluar itu jadi mudah untuk membatasi pergaulan mereka karena memiliki konstruksi tertentu mengenai mereka selain itu mereka akan merasa tidak nyaman jika dipanggil dengan ukhti atau akhi ketika merasa belum memilki kriteria yang sama yang menjadi seperti meraka (kelompok ikhwan maupun akhwat). Itu yang dikatakan modal dalam teori praktik sosial. Padahal kata-kata tersebut adalah sebuah transsisi bahasa yang kemudian masuk ke dalam budaya baru dan mengalami penyempitan makna bahwa ikhwan maupun akhwat harus berpenampilan sedemikian rupa dan bergaul dengan orang yang seperti itu juga dalam ruang yang sama.

Penyempitan makna itu mempengaruhi praktik sosial yang terjadi, di mana praktik yang terjadi itu adalah bentukan dari modal sosial yang dimiliki seseorang yang membaur dengan kebiasaan dan dilakukan dengan pertimbangan situasi kondisi yang di sebut denga ruang atau ranah tertentu. Dari habitus, modal dan ruang yang kita pelajari kita dapat menganalisis   bagaiman habitus membentuk praktik,bagaimana modal mempengaruhi praktik dan bagaimana ruang mengatur praktik. Praktik yang dilakukan hanya sebuah negosisasi yang dapat menjelaskan mengapa sesorang melakukan itu dan kita akan menemukan sebenarnya apa yang melatar belakangi mereka dalam berinteraksi dengan bahasa tertentu dan apa yang akan dibentuk melalui praktik komunikasi tersebut.

renungkan yukkkkk!!!!

aku sedang berada di titik bosan kuliah. berbagai hal membuatku jenuh dan muak duduk di bangku ini. aku pikir dengan kuliah, aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus memenuhi konstruksi sosial yang terkait dengannya. tapi nyatanya konstruksi yang selama ini menyiksaku adalah seorang mahasiswa yang bagus itu harus mempunyai nilai yang bagus,, cepat lulus dan mendapatkan kerja dengan cepat.

bagi mahaiswa yang mempunyai misi seperti konstruksi sosial itu, maka tidak ada masalah. mereka bisa mendapatkan nilai dengan berbagai cara, seperti belajar,. mencotek, dsb. tapi bagi yang tidak bagaimana?

maksudku seperti ini, jika nilai tidak bisa menginterpretasikan apa yang sesungguhnya ada dalam otak kita, masihkah nilai itu begitu penting bagi mahsiswa?

ini bukan tanpa sebab, karena hampir setiap akhir semester, nilai sudah keluar, banyak teman-teman yang tidak merasa puas dengan nilainya. mereka merasa bisa mengerjakan tapi nilainya tidak setara dengan pekerjaannya, kemudian mereka juga merasa tidak puas, karena teman yang mereka anggap tidak aktif di kelas, justru mendapatkan nilai yang jauh lebih baik.
sekarang mari kita jujur saja, apakah nilai yang kita harapkan muncul di siakad adalah benar-benar hasil kerja keras kita sendiri?
apakah nilai yang kita harapkan itu merupakan gambaran apa yang ada dalam kepala kita?

saya rasa tidak semua mahasiswa mampu menjawab kedua pertanyaan di atas. karena pada kenyatannya pun memang tidak seperti itu. yang mereka kejar hanyalah nilai sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk mewujudkan nilai sempurnanya itu dan melupakan nilai-nilai etika yang seharusnya dipenuhi sebagai seorang mahasiswa.

jika mahasiswa yang dipercaya masyarakat adalah golongan akademisi dan seharusnya berkonstribusi positif untuk masyarakat baik dalam bidang materiil maupun bidang moril justru melangar nilai-nilai moril yang seharusnya diusung, maka bukankah ini yang disebut penghianatan kepada masyarakat?

mari bersama-sama kita renungkan apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat sebagai bukti konstribusi positif kita sebagai mahasiswa.

“KALIAN YANG TERHORMAT”

hatiku terkoyak, jantungku mati sesak saat mendengar ‘kau yang terhormat’ mengatakan berbagai keluhan tentang ruang kerjamu yang sempit, toilet yang sempit, tempat duduk yang sedikit di ruanganmu. Kau sangat mengeluhkannya, bahkan di saat atasanmu (rakyat-RED) tidak mampu membeli sesuap nasi untuk keluarganya.

Tahukah kau, kami menjerit ketakutan saat para monster besi itu mengahncurkan rumah-rumah kami, harta benda kami dan kehormatan kami sebagai atasan kalian, sedang kalian beramai-ramai membangun gedung yang kalian bangung dari keringat dan darah kami.

ah… aku hampir lupa, Rupanya, ingatan kalian tumpul. Jelaslah kalian tidak ingat bagaimana mulut bau kalian berkoar akan menjadikan kami priotritas untuk diperjuangkan, makan kalian adalah pada saat kalian melihat kami mampu membeli makan, keringat kalian adalah kristal penerang hidup kami. Wah, aku akui janji kalian semanis madu, wajah kalian seindah mentari yang terbit di pagi hari. Ah betapa bahagianya aku saat itu, mengetahui kalianlah yang akan menjadi wakilku di gedung dewan terhormat.

waktu yang berjalan, janji itu masih terasa manis di telingaku. Namun, tak lama, kalian yang duduk di kursi hasil keringat kami, yang tidur di atas kasur empuk hasil kerja keras kami, yang mendiami rumah mewah hasil perasan darah kami, dan kalian yangg makan, makanan hasil air mata kami telah membuahkan luka yang tak kunjung sembuh.

Kalian telah menjelma menjadi binatang yang berotak tumpul dan berhati bebal, lupakah kalian dengan janji-janji dan segala rayuan termanis yang pernah kalian berikan? Ah, hampir saja aku lupa, kalian mempunyai otak yang tumpul dan telingan yang tuli, jadi bagaimana kalian akan mengingat dan mendengar semuanya. Maaf bapak ibu yang terhormat hampir saja aku melupakan cacat yang kalian derita itu.

GEMES BANGET, PENGEN TAK CUBIT PAKE TANG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

HUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHUUHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH

KULIAH SAYA SIANG INI^.^

Pada tanggal 21 April kemarin sepertinya menjadi hari bersejarah emansipasi perempuan yang diawali dengan gerakan seorang pahlawan perempuan bernama Kartini. Berbicara tentang emansipasi tak akan lepas dengan pembahasan tentang Gander yang selama ini cukup menjadi perbincangan menarik di setiap diskusi. Tapi ada hal yang perlu diketahui bahwa Gander ini tidak hanya terkait dengan peran dan fungsi seorang perempuan, melainkan juga peran dan fungsi laki-laki.

Peran dan fungsi keduanya memang telah terkonstruksi secara mendarah daging dalm kehidupan sosial masyarakat. Misalnya seorang perempuan yang ideal dalam konstruksi sosial adalah seorang perempuan dengan rambut panjang, memakai rok, langsing, pintar memasak dan menjadi seorang ibu dan istri yang mengurus keluarga sementara suaminya mencari nafkah.seorang laki-laki dan suami yang baik dalam konstruksi sosial adalah seorang laki-laki dengan perawakan yang gagah, seorang pencari nafkah utama dalam keluarga. Konstruksi sosial tersebut terkadang dan bahkan sering merugikan keduanya, baik perempuan maupun laki-laki. Coba lihat, berapa banyak perempuan misalnya menghabiskan uang untuk melakukan perawatan sehingga ia dapat menjadi cantik demi memenuhi karakteristik perempuan cantik menurut konstruksi sosial. Bagaimana orang berusaha mati-matian diet jika hanya untuk memenuhi karakteristik perempuan cantik menurut konstruksi sosial. Jika diet dilakukan untuk menjaga kesehatan dan memang benar dari dalam dirinya sendiri, bukan hal yang masalah, namun jika semua perawatan dilakukan untuk memenughi anggapan masyarakat tentang bagaimana perempuan cantik itu seharusnya, maka ini perlu dipertanyakan, apakah seseorang itu telah termakan oleh ideologi konstruksi perempuan cantik di dalam masyarakat? juga dengan laki-laki yang banyak menghadiskan waktunya untuk melakukan fitnes, agar tubuhnya terlihat gagah dan memenuhi standar laki-laki jantan menurut konstruksi sosial.

Saya pikir, kita adalah makhluk bebas yang dapat menentukan bagaimana kita ini secara fisik pun secara karakteristik. Tidak perlu selalu berusaha menjadi apa yang orang mau dan yang orang ingin. Tidak ada salahnya dengan merawat diri dan menjadi sesuatu yang dianggap masyarakat baik, namun jika itu hanya membuat kita tersiksa dan tidak menjadi diri sendiri, apa semua ini akan berarti. Kecantikan seorang perempuan itu akan muncul dengan sendirinya saat ia menjadi dirinya sendiri tanpa melebih dan mengurangi, perempuan seharusnya mampu membuktikan kepada dirinya sendiri dan kepada masyarakatnya bahwa ini lah potensinya dnegan segala bentuk rupa fisiknya, ia mampu berkonstribusi minimal untuk keluarganya agar mampu mencetak penerus-penerus agama dan bangsa yang luar biasa, terlebih bermanfaat untuk agama dan bangsanya, tidak hanya mampu merawat dirinya sendiri. Pun juga untuk laki-laki, saya pikir seorang laki-laki yang tampan, kaya, berani,dan gagah akan tetap kalah dengan seorang laki-laki yang dapat dipegang janji dan ia bertanggung jawab. Ya, bagi saya khususnya, laki-laki yang jantan itu adalah dia yang mampu bertanggungjawab untuk dirinya sendiri dan orang lain. Tidak hanya bisa pintar memikat hati seorang wanita atau sibuk mengurus badannya agar terlihat gagah, lebih dari iitu ia harus mampu menjadi dirinya sendiri dengan tidak pernah melupakan fitroh dan tanggungjawabnya.

Kecantikan dan keindahan memang sangat perlu dijaga agar tetap indah, karena Allah itu indah dan menyukai keindahan, tapi hal yang digaris bawahi adalah rawatlah sewajarnya, jangan sampai merubah ciptaanNya yang sempurna. Jangan mau terkurung dalam konstruksi sosial masyarakat tentang bagaimana cantik itu seharusnya.

bingung

kata salah satu dosenku, ‘belajar’ adalah sebuah ‘jalan sepi’ dimana tidak semua orang atau lebih tepatnya tidak banyak orang yang memilih jalan tersebut. Kebanyakan dari mereka memilih jalan yang ramai. Jalan yang tidak serumit ‘jalan sepi’ tadi. Jalan di mana semua orang bisa begitu bebas mengekspresikan diri, bersenang-senang dab bahagia, tanpa tahu ada sesuatu hal yang sangat penting untuk hidup ini.

Coba kita misalkan, jika kita ingin menuju suatu tempat, ada dua jalan yang pertama adalah jalan dengan aspal yang bagus, taman-taman tertata rapi di sepanjang ruas jalan, jika seperti ini siapa yang tidak akan mau melewatinya, semua orang akan mau melewatinya. Tapi berbeda dengan orang-orang yang memilih jalan satu lagi, jalan sempit, terjal dan banyak lubang di sana-sini, namun orang tersebut tetap melewatinya dengan memiliki berbagai pertimbangan, jika ia juga memilih “jalan enak” tadi, maka kemungkinan besar akan banyak orang yang juga akan melewatinya, maka terjadilah kemacetan. Dan jika ia memilih “jalan sepi” itu, maka perlahan tapi pasti ia akan sampai lebih cepat karena tidak macet.

 

hehe.. bingung ya? iya aku juga bingung..

 

 

Teach with Your Heart^^

menonton film “the freedom writers” membuatku mengerti akan satu hal dalam dunia pendidikan dimana aku akan berkecimpung jauh lebih dalam di dunia itu. satu hal yang kadang tidak kita sadari, bahwa peubahan terjadi di dalam kelas, dimana seorang guru mampu memberikan dorongan yang luar biasa kepada anak didiknya. seorang guru yang mengajar dengan hati, bukan dengan pengetahuan yang dimilikinya.

 

sebagai seorang mahasiswa pendidikan, banyak sekali teori, aturan dan etika yang harus dipenuhi saat mengajar di dalam kelas, bagaimana cara membangun wibawa di dalam kelas agar dihormati oleh para murid-muridnya dan menjaga jarak agar tetap mempunyai karakteristik. selama ini saya selalu bertanya tentang motto “berkarakter kuat dan cerdas”. apa yang dimaksud dengan berkarakter kuat? apakah itu berarti seorang guru yang saklek dnegan semua peraturan di dalam sistem pendidikan dan mempunyai wibawa di hadapan murid-muridnya dengan memberikan batas yang amat sangat jelas antara guru dan murid?

jelakan padaku apa yang dimaksud dengan ‘berkarakter kuat’?

banyak orang yang memprotes dan mengkritik bagaimana sistem pendidikan dan administrasinya selama ini berjalan. namun ketika mereka pada akhirnya berkecimpung di dalam sistem yang mereka kritik habis-habisan itu, mereka mengakui bahwa tidak bisa mengubah atau keluar dari sistem itu ketika sudah masuk di dalamnya.

 

jika film ‘the freedom writers’yang diangkat dari kisah nyata seorang guru bernama Erin Gruwell yang memulai mengajar di Woodrow Wilson High merevolusi kegiatan pembelajaran di tengah-tengah konflik antar ras yang sangat mencekam di Amerika pada tahun 1994. ia mengajar di sebuah kelas yang berisi anak-anak berandalan dari berbagai ras di Amerika; orang kulit putih, kulit hitam, china, kamboja bahkan yahudi. kebanyakan dari mereka mempunyai kemampuan yang buruk dalam membaca dan menulis serta memiliki latar belakang yang bermasalah. membunuh, dipenjara, terkena tembakan, perkelahian antar gang sangat erat dengan kehidupan mereka. bisakah kita bayangkan bagaimana jika kita yang mengajar kelas seperti ini? entahlah dengan kita, namun Erin Gruwell telah membuktikan ia bisa membuat mereka menjadi anak-anak yang tadinya mempunyai harapan kosong dan tidak bertujuan menjadi anak-anak dengan tujuan hidup dan harapan yang tinggi yang lebih peka dengan penderitaan dan toleransi antar ras.

Jika Ms.G, begitu sapaan akrab murid-muridnya mampu menerjang sistem yang ada di dalam sekolah itu meskipun banyak sekali yang menentangnya bahkan suami yang awalnya sangat mendukung pada akhirnya memilih cerai karena merasa dinomor duakan oleh Ms.G, ia tetap terus berjuang agar anak-anak didiknya selalu mendapat suntikan motivasi dan tidak sedikitpun menampakkan raut wajah kesedihannya di hadapan para murid.

 

sebuah sistem pendidikan hanya akan menjadi teori tidak bisa menjadikan anak didik  lebih baik dan bertujuan. oleh karena itu sistem dan kurikulum yang sudah tersusun dengan rapi yang pada dasarnya mempunyai tujuan mulia, semoga dapat kita laksanakan dengan baik agar pendidikan menghasilkan anak-anak yang cerdas dan luar biasa dalam bidangnya, bukan hanya dalam bidang akademik.

 

‘the freedom writers’ mengajarkan pada kita bahwa ‘mengajar dengan hati’ adalah sebuah pekerjaan yang mulia, bahkan akan mengubah kehidupan suatu bangsa jika di dalam kelas-kelas terdapat guru yang luar biasa yang mampu memberikan perubahan nyata pada diri anak didiknya dengan menggunakan daya anak didik itu sendiri untuk maju. yang mampu meluluhkan tembok ras yang menjulang tinggi di tengah-tengah konflik.

 

‘the freedom writers’ saya anjurkan untuk ditonton bagi teman-teman calon guru dan bapak/ibu guru.